Rabu, 09 Desember 2015

Ironi

Untuk ibu:

Mungkin seharusnya,
Malam ini kita berkumpul bersama
Para tetangga, teman, dan saudara
Di secuil ruang tamu kita yang mungil

Mungkin seharusnya,
Setelah nyala lilin itu kau tiup
Kuucapkan selamat ulang tahun padamu
Dengan mulut yang kau ajar mengeja huruf agar kata-kataku hidup

Mungkin seharusnya,
Kau potongkan kue tart itu
Dan aku yang pertama kau suapi
Sebagai anakmu yang lahir pertama kali

Mungkin seharusnya,
Kudekap khidmat kedua tanganmu
Yang dulu  tak pernah lelah mencuci
Popok-popok yang kukencingi

Mungkin seharusnya,
Kucium pipimu yang mulai keriput
Tempat air mata melereng
Saban kali kami dirubung nyamuk atau meringkuk meriang

Mungkin seharusnya,
Hari ini anak-anakmu masih melihatmu
Duduk tenang dilayani dua anak lanang
Yang kini mengembara gamang lantaran kau tinggalkan

Bukannya tiap malam jumat
Malah membersihkan rumput liar yang tak pernah lebat
Dan guguran bunga kamboja yang berserakan
Di Kramatan...

Barangkali rasa asing yang kau tinggalkan dalam batin
Telah membantu kami melawan taring nasib yang dingin
Biji-biji kepuh bertangkai rapuh, jatuh seperti peluh
Maafkan anakmu yang dulu kau asuh, kau rengkuh, kini tumbuh begitu jauh

Selamat ulang tahun Ibu,
Dengan salam dan doa yang baik

Sigit jati kusumo
Kendari, 12/10/2015

Waktu

WAKTU

Disini jam dinding tak mau menghitung waktu
Sebab detik-detiknya adalah rindu
Menit demi menitnya adalah kenangan padamu
Angka pada jamnya,
menunjukkan betapa kuat engkau tertanam dalam kalbu...

Tanpamu aku adalah api yang hendak padam lantaran sepi
Tak bisa sembunyi dari kesedihanku sendiri
Sebab dalam terik rindu tak bertepi
Engkau adalah tangkai rindu yang menopang matahari...

Sigit jati kusumo,
06/2015