Rabu, 22 Juni 2016

Bawa Aku

Bawa Aku

Hanyalah kelucak ombak membelai pantai
Membuih putih, lalu berpusar dalam gusar
Angin laut bertiup sayup - sayup
Menghalau anak - anak pulang dengan baju kuyup

Kau beranjak berdiri
Sambil mengibaskan pasir di celanamu
Pada gerai rambutmu yang diterpa angin
Kuindra hijau sawah dan lebat ladang tebu di kampung
Lengkung hidungmu bersiluetkan mendung
Mengingatkan rahim tempatku pernah mukim

Dan seperti ombak yang membawa laut pada pantai
Merangkak di kaki pasir sejenak sebelum kembali tercerai
Begitu pula aku padamu

Daripada menempuh pelayaran baru
Padamu hendak kulabuhkan segala rindu
Bawa aku pulang, sayangku ...

Sigit Jati Kusumo
23-06-2016

Sepeda

Sepeda

Sepeda itu berjalan pelan
Terhuyung di tanah basah usai hujan
Berguncang - guncang
Kala rodanya melanda bebatuan

Burung gereja terbang rendah di sawah
Menghasilkan gaung kelepak yang indah
Angin sore membawa bau ilalang
Memasuki rongga paru terdalam

Tanganmu merangkul erat pinggangku
Pipimu menempel manja di punggungku
Dendangmu, menghiasi sepanjang jalanku

Langit senja disekian gradasi warna
Membuat siluet pohon menjelma taksu
Sebuah latar sempurna bagi bidadari sepertimu

Sayang angin yang lewat tak mau mencatat
Meskipun diam- diam aku menyimpannya dalam kalbu
Lengkung pelangi itu
Begitu cantik
Seperti dirimu

Sigit Jati Kusumo
7/06/2016

Mercusuar #2

Mercusuar #2

Tegaklah seperti mercusuar di pulau terluar
Menjaga para pelaut dari karang terhampar
Di lautmu yang kerap ganas tak kenal waktu
Harap lindap dikulum kerang di ceruk batu

Tegaklah seperti mercusuar di pulau terluar
Melindungi bangkai waktu yang teronggok kasar
Cahayamu menggeliatkan sunyi diantara kelepak camar
Sepotong dahan damar terdampar dan serpihan kain layar

Kelak kita akan bertemu di sana
Kala ombak ganas meringkus, batu cadas tergerus
Sebelum kenangan kandas dan rembulan subuh lampus

Sigit Jati Kusumo
25 Mei 2016

Memento Mori

Memento Mori

Seperti nyata
Senyummu menggambar rumah di rongga dada
Rumah mungil penuh pepohonan
Terkucil dari riuh jalanan

Sayup -  sayup kudengar:
Anak - anak kita yang sedang lucu-lucunya
Berjingkrak girang, tertawa riang
Bermain dan berlarian di sepanjang taman
Seperti planet- planet kecil yang mengitari matahari

Dan kau akan jadi mataharinya
Pusat tata surya yang menyinari semesta
Bersit hangat nan lembut
Seperti mentari yang terbit menggeliat dari celah kabut

(Rahangku mulai mengatup kuat,
Membungkam perasaan yang tiba-tiba menyergap)

Apa salahnya aku bermimpi sekali lagi
Sebelum darah mulai sendat lantaran kental
Dan berdatangan pelayat - pelayat berwajah janggal
Sigit Jati Kusumo
07-06-2016

Kamis, 21 April 2016

Angin Sunyi

Detak jam begitu nyata menggertak

Pada suara angin membelai udara

Berderai tidurkan ramai yang kini lupa akan luka

Angankan aku adalah angin itu

Yang tak merajuk meskipun lelah

Hendak menuju lekuk daun telingamu untuk istirah

Sebab aku ingin melipat jarak yang kini beranjak untuk berarak

Menggulung waktu lalu. Semakin beku dan kelu

Hingga tak terasa lagi sakit oleh pahit detik itu

Pahit yang terbit usai diperam sedetik tadi

Oleh bersit rindu yang bangkit dalam sedetak nadi

Ketika membayangkan parasmu dalam semedi

Yang ada hanya siut

Yang nyata cuma kesiur

Selebihnya udara kisut yang simpang siur

Dan perihal sesal yang menjelma berjuta amsal

Tetap tinggal, tak mau tanggal

Janggal dan kekal

Ibnu Nafisah & Sigit Jatikusumo
Kendari, 16 Maret 2016

Minggu, 17 April 2016

Payung

Betapa sejak lama
Aku ingin berpayung lagi denganmu
Mengarungi rentang jalan yang lengang
Dibawah rintik hujan dengan tangan bertautan

Ricik air hujan
Kehangatan jemari tangan
Udara lembab
Langit gelap

Kabut mengepul dari hembus nafasmu
Menjelma kecupan di kaldera kalbu
Menggeriapkan bulu-bulu tengkuk
Seperti kala kita berpeluk...

Sigit jati kusumo,
2015

Kentir Ing Wedi Ombo

Aku berdiri di atas batas
Antara pasir dan air
Sinar bulan dan kelucak ombak
Bayang rembulan dikaburkan riak

Jantungku bergemuruh seriuh prajurit perang campuh
Hati berdebam seseram logam saling hantam
Di dalam kepalaku
Mendung menggantung memuramkan jiwa murung
Tubuhku... Mematung...

Sigit Jati Kusumo
April, 2016