Rabu, 22 Juni 2016

Bawa Aku

Bawa Aku

Hanyalah kelucak ombak membelai pantai
Membuih putih, lalu berpusar dalam gusar
Angin laut bertiup sayup - sayup
Menghalau anak - anak pulang dengan baju kuyup

Kau beranjak berdiri
Sambil mengibaskan pasir di celanamu
Pada gerai rambutmu yang diterpa angin
Kuindra hijau sawah dan lebat ladang tebu di kampung
Lengkung hidungmu bersiluetkan mendung
Mengingatkan rahim tempatku pernah mukim

Dan seperti ombak yang membawa laut pada pantai
Merangkak di kaki pasir sejenak sebelum kembali tercerai
Begitu pula aku padamu

Daripada menempuh pelayaran baru
Padamu hendak kulabuhkan segala rindu
Bawa aku pulang, sayangku ...

Sigit Jati Kusumo
23-06-2016

Sepeda

Sepeda

Sepeda itu berjalan pelan
Terhuyung di tanah basah usai hujan
Berguncang - guncang
Kala rodanya melanda bebatuan

Burung gereja terbang rendah di sawah
Menghasilkan gaung kelepak yang indah
Angin sore membawa bau ilalang
Memasuki rongga paru terdalam

Tanganmu merangkul erat pinggangku
Pipimu menempel manja di punggungku
Dendangmu, menghiasi sepanjang jalanku

Langit senja disekian gradasi warna
Membuat siluet pohon menjelma taksu
Sebuah latar sempurna bagi bidadari sepertimu

Sayang angin yang lewat tak mau mencatat
Meskipun diam- diam aku menyimpannya dalam kalbu
Lengkung pelangi itu
Begitu cantik
Seperti dirimu

Sigit Jati Kusumo
7/06/2016

Mercusuar #2

Mercusuar #2

Tegaklah seperti mercusuar di pulau terluar
Menjaga para pelaut dari karang terhampar
Di lautmu yang kerap ganas tak kenal waktu
Harap lindap dikulum kerang di ceruk batu

Tegaklah seperti mercusuar di pulau terluar
Melindungi bangkai waktu yang teronggok kasar
Cahayamu menggeliatkan sunyi diantara kelepak camar
Sepotong dahan damar terdampar dan serpihan kain layar

Kelak kita akan bertemu di sana
Kala ombak ganas meringkus, batu cadas tergerus
Sebelum kenangan kandas dan rembulan subuh lampus

Sigit Jati Kusumo
25 Mei 2016

Memento Mori

Memento Mori

Seperti nyata
Senyummu menggambar rumah di rongga dada
Rumah mungil penuh pepohonan
Terkucil dari riuh jalanan

Sayup -  sayup kudengar:
Anak - anak kita yang sedang lucu-lucunya
Berjingkrak girang, tertawa riang
Bermain dan berlarian di sepanjang taman
Seperti planet- planet kecil yang mengitari matahari

Dan kau akan jadi mataharinya
Pusat tata surya yang menyinari semesta
Bersit hangat nan lembut
Seperti mentari yang terbit menggeliat dari celah kabut

(Rahangku mulai mengatup kuat,
Membungkam perasaan yang tiba-tiba menyergap)

Apa salahnya aku bermimpi sekali lagi
Sebelum darah mulai sendat lantaran kental
Dan berdatangan pelayat - pelayat berwajah janggal
Sigit Jati Kusumo
07-06-2016

Kamis, 21 April 2016

Angin Sunyi

Detak jam begitu nyata menggertak

Pada suara angin membelai udara

Berderai tidurkan ramai yang kini lupa akan luka

Angankan aku adalah angin itu

Yang tak merajuk meskipun lelah

Hendak menuju lekuk daun telingamu untuk istirah

Sebab aku ingin melipat jarak yang kini beranjak untuk berarak

Menggulung waktu lalu. Semakin beku dan kelu

Hingga tak terasa lagi sakit oleh pahit detik itu

Pahit yang terbit usai diperam sedetik tadi

Oleh bersit rindu yang bangkit dalam sedetak nadi

Ketika membayangkan parasmu dalam semedi

Yang ada hanya siut

Yang nyata cuma kesiur

Selebihnya udara kisut yang simpang siur

Dan perihal sesal yang menjelma berjuta amsal

Tetap tinggal, tak mau tanggal

Janggal dan kekal

Ibnu Nafisah & Sigit Jatikusumo
Kendari, 16 Maret 2016

Minggu, 17 April 2016

Payung

Betapa sejak lama
Aku ingin berpayung lagi denganmu
Mengarungi rentang jalan yang lengang
Dibawah rintik hujan dengan tangan bertautan

Ricik air hujan
Kehangatan jemari tangan
Udara lembab
Langit gelap

Kabut mengepul dari hembus nafasmu
Menjelma kecupan di kaldera kalbu
Menggeriapkan bulu-bulu tengkuk
Seperti kala kita berpeluk...

Sigit jati kusumo,
2015

Kentir Ing Wedi Ombo

Aku berdiri di atas batas
Antara pasir dan air
Sinar bulan dan kelucak ombak
Bayang rembulan dikaburkan riak

Jantungku bergemuruh seriuh prajurit perang campuh
Hati berdebam seseram logam saling hantam
Di dalam kepalaku
Mendung menggantung memuramkan jiwa murung
Tubuhku... Mematung...

Sigit Jati Kusumo
April, 2016

Sabtu, 16 April 2016

Angin

Gemetar serupa pohon dilanda hujan
Aku melangkah perlahan, sedikit tertahan
Sedang di atas, angin mengelana bebas tanpa batas

Angankan aku sebagai angin itu
Leluasa bertualang memasuki ruang
Tanpa lupa dirimu sebagai tujuan pulang

Maka ijinkan aku membaca parasmu
Pada gunung lembah berkelok indah
Pada mata teduh tempat harap kukayuh

Mata indah yang mengaburkan resah
Berhias serakan merjan melambungkan angan
Niscaya harap mengendap kala kau mengerjap

Sekarang berpalinglah cah ayu
Biarkan aku tergelincir menuju gigir bibir
Sebab aku ingin mencecap manis
Dari  gadis pujaan sang penyair

Angankan aku sebagai angin itu cah ayu
Membaca parasmu, membalut tubuhmu
Merindumu...

Sigit Jati Kusumo
7 April 2016

Masa Kecil

Kadang terlintas dalam benak
Ingin kembali ke masa kanak
Menjadi bocah dekil yang terpesona hal-hal kecil
Dengan kesederhanaan tamsil dalam kepala mungil

Dan kita akan bermain bersama
Anyaman daun nangka yang kau sangka mahkota
Menghiasi kepala kita

Selembar sarung, jubah yang agung
Berkibar mengusir mendung
Kau ratu rembulan aku raja matahari
Kita raja dan ratu dalam sehari

Anggun berselingan
Lincah menari dibalik angan

Sigit Jati Kusumo
April, 2016

Hakikat Maut

Maut adalah seonggok jasad
Tergolek dingin di lubang mayat
Cacing dan belatung berpesta di genangan lobang mata
Daging membusuk dan berjatuhan dari tubuh kita

Diatasnya kerabat meratap dan berdoa
Entah untuk apa entah kepada siapa
Entah apa atau siapa yang mendengarnya

Maut adalah ketika segalanya menemui akhir
Tak seindah apa yang di kabarkan oleh pengkotbah dan penyair
Selebihnya hanya menyisakan getir

Sigit jati kusumo
2010

Ritual

Malam turun perlahan
Cahaya rembulan menyusup di sesela kabut seperti rekahan
Angin berkesiut dari dahan ke dahan
Suara jantung tersudut sedikit berbagi keriuhan
Selarik blarak hanyut hilang di kejauhan

Sepasang anak adam, sedang berbagi cinta
Bersama menghabiskan malam, pada hal terbaik yang pernah dicipta
Dalam teriakan banal dan lenguh binal
Sebuah percumbuan singkat diujung hari jumat

Nafas sepasang manusia
Menjelma udara di ruang hampa
Bersama angin mengembara tanpa rupa
Sampai temu tabir rahasia

Di balik temaram subuh yang sebentar lagi lenyap
Embun perlahan menghilang melesap
Ke celah-celah tanah yang (masih) terbaring lelap
Lelah menunggu harap

Sigit jati kusumo
2015

Perempuan Itu

Aku bertanya padamu
Apakah semua perempuan diluar sana
Dilahirkan dengan kegemaran yang sama
Seperti sebuah pelukan yang merengkuh tubuhmu
Ataukah sedikit kecupan di puncak keningmu

Dan betapa engkau suka
Membenamkan wajah cantikmu dalam kaosku
Tepat di dadaku, yang setia menadah suka dukamu

Apa yang hendak engkau kekalkan dalam sebuah pelukan
Apakah itu pelepasan kerinduan
Ataukah mimpi purba akan sebuah pertemuan

Hatimu mungkin lapang
Tempat lalu-lalang berbagai kenangan
Tapi cukup tangguhkah engkau menampung kesakitan
Yang muncul akibat perpisahan
Yang harus kita bayar dari sebuah pertemuan

Sigit Jati Kusumo,
2015

Penghujung Malam

Gelap kembali jatuh
Di penghujung malam yang hendak rubuh
Sang surya akan segera bersinar angkuh
Sebelum jiwamu jumbuh kurengkuh

Di langit timur terbit putra sang fajar
Bersinar redup nyaris tanpa gebyar
Diantara ranjang dan selimut terhampar
Tautan sukma kita pun ambyar

Ingin kucumbu dirimu siang dan malam
Biar matahari dan rembulan terbakar iri-dendam
Sungguhpun tubuh kita bersitaut begitu dalam
Kobar cinta ini tak akan padam

Sigit jati kusumo,
2015

Kopi

Ijinkan aku dengan santun meminta padamu
Untuk menjadi kopi dipagi harimu
Mencoba menghangatkan hatimu yang beku
Dan membalur lidahmu yang kelu

Biarlah kesedihanmu mengendap dalam ampasku
Juga pahit getirmu lindap dalam pekatku

Biarkan aku menjadi kopi bagimu
Untuk menguatkanmu juga menghangatkanmu
Di saat-saat tergelap dalam hidupmu

Sigit Jati Kusumo
2015

Tawa Yang Tak Selesai

Aku ingin malam yang dipenuhi nyala lilin
Seperti di malam itu dan malam-malam yang lain
Di keempat penjuru kamar
Ada cahaya lilin berpendar

Dan kita sama-sama mendengar
Koor para biduan berjuang melawan kegelapan
Kala selaput telinga tergetar
Dan dada sesak dipenuhi harapan

Ketika kita dikuduskan cinta
Kehadiranmu menjadi nyata,
Pun ketika tuhan memberi perpisahan
Untuk melengkapkan makna kesedihan

Air matamu senyap tak bersuara
Namun begitu lantang mengabarkan duka
Senyummu sunyi tak beriak
Tapi menerjang kalbuku laksana ombak

Sigit jati kusumo,
2015

Hidup Untuk Mati

Duhai ibuku
Dalam kebul tungkumu
Apa yang engkau ingin kekalkan:
kesia-siaan
Takdir dan harap berselisih dalam sedih
Sedang kakimu terlihat sangat letih

Tuhan dan nasib berembug
Mencari pilihan terbaik diantara terburuk
Mencoba menyelamatkan dirimu yang telah (lama) remuk
Sebab bagaimanapun kita bangun kita kembali terpuruk

Buku-buku jarimu yang kasar
Tubuh dan jiwa letih hingga ke dasar
Disiksa kesengsaraan yang terus berpusar

Bisa saja tuhan menyelamatkanmu lewat maut
Dari harapan yang kian hari kian susut
Dari hari ke hari yang kian kusut
Dari kesengsaraan yang (mungkin) terus berlarut

Sigit Jati Kusumo
2013

Hidup Untuk Mati

Duhai ibuku
Dalam kebul tungkumu
Apa yang engkau ingin kekalkan:
kesia-siaan
Takdir dan harap berselisih dalam sedih
Sedang kakimu terlihat sangat letih

Tuhan dan nasib berembug
Mencari pilihan terbaik diantara terburuk
Mencoba menyelamatkan dirimu yang telah (lama) remuk
Sebab bagaimanapun kita bangun kita kembali terpuruk

Buku-buku jarimu yang kasar
Tubuh dan jiwa letih hingga ke dasar
Disiksa kesengsaraan yang terus berpusar

Bisa saja tuhan menyelamatkanmu lewat maut
Dari harapan yang kian hari kian susut
Dari hari ke hari yang kian kusut
Dari kesengsaraan yang (mungkin) terus berlarut

Sigit Jati Kusumo
2013

Senja Di Pantai Siung

Pantai Siung

Di sana tempat kita bersama
Menyaksikan ombak dan karang yang mesra bercengkrama
Buih dan garam larut dalam senggama
Angin memecah rambutmu, menebar berjuta aroma

Tebing cadas tabah menghadang arus
Perlahan tubuhnya rontok tergerus
Bertahan menahan terjangan dengan tulus
Serupa kita menjaga agar harap tak lampus

Jauh di bawah
Air melurubi celah karang bikinan nelayan
Dimana kapal lewat untuk singgah
Menambat di daratan

Matahari pulang dengan ramah pada senja yang teduh
Rembulan muncul segaris, pada pandangan terjauh
Cahayanya berpiuh, warna langit dan laut tersepuh
Merasuk ke ingatan kita yang mudah rapuh
Digerogoti sang waktu hingga lumpuh

Sigit Jati Kusumo
Agustus, 2015

Pion

Kita adalah boneka takdir
Sebagai benteng, kuda, raja, atau entah apa sejak lahir

Menari di bawah kendali jemari sang dalang
Tanpa hak memilih dalam hidup yang jalang
Kemudian kita akan di bakar di gelapnya malam
Dalam kekal api neraka jahanam

Sang dalang dengan enaknya menentukan takdir
Seringkali yang ia guriskan berujung getir
Segala gerak di panggungnya ditentukan satu sabda
Sedari ketika para pion lahir hingga tiada

Sigit Jati Kusumo
2014

Senja Di Stasiun Kereta

Senja rebah, di sesela pohon

Sebersit cahaya membuncah, menembus celah celah peron

Cahaya temaram, surya tenggelam menolak padam

Di atas bordes buram, tempat semayam segala yang silam

Kenang dan angan saling sisipan dalam benak

Sejenak sadar ketika gerbong menyentak

Sebelum kembali mendaki ke puncak

Dan imaji tercampak dalam sajak

Sang penyair itu

Melihat alunan alam seperti bayang hantu

Entah apa yang ia tulis dalam ragu

Begitu ingin bebaskan kata dari belenggu

Sigit Jati Kusumo
Agustus, 2015

Mengingat Ibu

Dulu, orang-orang bilang ibu pergi jauh
Satu tangannya menunjuk ke langit
Seolah ibu ada di langit ketujuh
Atau mereka hanya berkelit

Lantaran kembali ingin berkait
Aku dan adik jadi sering memandang langit
Bentang luas warna warni tak terperi
Ruang bebas tempat huni segala misteri

Masa kanak mungkin terenggut
Kebahagiaan yang datang tak jarang luput
Kenangan masa kecil dua anak dekil
Tersimpan menggigil dalam rumah mungil

Suatu waktu kami teriak: Kami adalah anaknya!
Langit beriak, kemudian melelehkan hujannya
Menggenang basah tanah kami
Mengenang ibu yang direngkuh bumi

Kami bahkan masih bisa mengingat
Senyumnya yang begitu hangat
Sentuhan lembut tangannya di dahi kala demam
Ketika ia menyelimuti kami kala malam

Dan betapa kami ingin berterimakasih atas ribuan ciuman yang ia berikan
Hingga sekarang pori pori kulit pipi kami masih bisa merasakan
Juga rasa air susunya yang menenangkan
Kala kami digendong dalam rentang buaian

Waktu mengesahkan segalanya
Waktu adalah bukti bahwa ia pernah ada
Suatu saat ketika jantung kami lelah menari
Berharap bertemu ibu di antara para bidadari

Sigit Jati Kusumo
14 Juni 2015

Candu

Nasib dan duka kadang berjalan bersama
Beriringan untuk waktu yang lama
Menyadarkan akan hidup yang sia-sia
Kejam, seperti novel tragedi gubahan rusia

Manusia lemah hidup digelayut geragu
Dicengkeram oleh kemiskinan yang membelenggu
Selebihnya mereka hanya menunggu
Kepada maut yang menjemput tanpa ragu

Sebagian dari mereka hidup dalam buai candu
Dari agama yang tiap saat membuatnya merindu
Pada surga semu yang dipenuhi sungai indah dan perdu
Dan segala janji semanis madu

Sigit jati kusumo
2015

Senja Ratu Boko

Lumut tebal nan liar
Tergolek, terinjak zaman biar
Tumpukan batu terdiam tanpa bahasa
Mengisahkan pernah ada kehidupan pada sebuah masa

Cerita terkubur di keraton yang tidur
Kenangan mengabur pada kisah tak tertutur
Tentang berbagi tawa dan peristiwa
Gambaran seluruh jiwa di sejengkal jawa

Sungguh kau suguhkan padaku:
Senja legendaris di keraton raja bangau
Yang coba kutulis dalam puisi namun tak terjangkau
Oleh berbaris kalimat memukau

Dan pada akhirnya muncul sebersit tanya:
Apakah sang raja menyaksikan senja yang sama
Pada sebuah masa
Dimana kehidupan pernah mengada

Sigit Jati Kusumo
Agustus, 2015

Bayang Maut

Bayang maut berkeliaran di atap rumah
Harapan susut menyublim ke entah
Muka kusut gamang tanpa arah
Dihantui kalut disatroni amarah

Mungkin maut enggan pergi
Setelah singgah di sini disuatu pagi
Merenggut keluarga dalam sekali rengkuh
Atas perintah Tuhan yang tertawa angkuh

Sementara yang ditinggalkan
Termangu di bawah kaki pengharapan
Bergerak namun tak berani berangan
Hidup sebatas dari belas kasihan

Angin datang dari selatan menggenggam bingkisan
Seolah ingin ikut memberi harapan meringankan penderitaan
Terbang rendah di atas daratan menolak takhluk pada Tuhan

Sayang angin telah lupa bahwa
Takdir telah ditentukan pada semua yang berjiwa
Tak terkecuali turunan adam dan hawa

Fakta adalah selisih antara harapan dan kenyataan
Segala keluhan yang ia ikut denguskan
Tak lebih dari selingan dari empedu kehidupan

Sigit Jati Kusumo
2015

Tentang Rumahku

Kepada adikku :

Bola lampu tua itu
Apakah masih menempel di dinding kamar ibu

Pijar keemasannya pernah menghangatkan malam malam kita dulu
Di kota yang anginnya terus berhembus
Di rumah yang kusennya dicat hijau kukus
Aku masih mengingat segalanya:
Masa kecilku

Apakah plafonnya masih berlubang seperti waktu itu
Dimana ada gelap membayang
Dan dari sana mengintip kecemasan
Seperti masa kecilku yang kadang terlalu gampang ketakukan

Ataukah masih seperti dimalam- malam yang lain
Kita duduk di lincak, pada beranda yang dibuai angin
Dengan punggung yg menyeru dingin
Menggigil dalam ingin

Kemudian bagaimana pula dengan dapur rumah kita
Yang tiap subuh bunyi ceklak - ceklek menggema
Dimana ibu memasak disana
Untuk kita yang berangkat segera

Disana pula kakek yang tiap pagi menyalakan tungku untuk memasak air hangat
Ah, kakek! Beliau meskipun sudah tua tapi masih penuh semangat
Tiga hari seminggu mengajar senam di balai desa
Tanpa lupa ibadah penghapus dosa

Sekarang aku ingin tahu bagaimana kamar kita
Yang gordennya dari bahan kain mentah warna biru
Yang aroma udaranya berbau gel rambutmu
Dan baju kotor bertumpuk dengan buku jadi satu

Aku sedang bicara tentang masa kecil kita
Yang mengendap disana di rumah tua
Dimana kenangan berserakan
Diantara tembok tua dan ubin yang telah berubah warna

Sigit jati kusumo,
2015

Sajak Kuda Liar

Manisku, langkahkan kaki mungilmu ketika rindumu berdebar
Langkahkan ke pelukanku yang menunggumu dengan hati sabar dan tangan gemetar

Kemudian kita akan berlari layaknya kuda liar
Di atas langit yang terhampar
Mengejar sang fajar

Sigit jati kusumo,
2015

Delusi Cinta

Matahari mendekat kemarau mendekap
Awan berjingkat hujan disekap
Ceruk air melumpur pekat harapan petani lindap
Semak hutan tak lagi lebat binatang hilang harap

Bila engkau adalah kemarau panjang
Akulah satu-satunya pohon jati yang tak pupus berjuang
Walau daunku tak lagi rindang

Dan tubuh kekarku kering kerontang
Disiksa dirimu yang terlampau lama bertandang

Jangan pergi!
Buai daun compang campingku dari awal pagi
Hingga terbakar lagi dan lagi

Biarkan wujud ini menguap
Hilang serupa asap
Menyatu dengan langit
Meninggalkan semua rasa sakit

Sebab disana aku akan ada menemanimu
Mengarungi pagi hingga petang tanpa jemu
Meski kau ada untuk memperpanjang derita
Dan ilusi dari kesia-siaan cinta

Sigit Jati Kusumo
Agustus, 2015

De Brevitae - Vitae

Dalam pendeknya kehidupan
Ada luas pengembaraan
Sementara di balik awan sang maut menunggu
Dengan mengendarai kuda waktu

Jadi kenapa kita tidak bersenang - senang
Karena hidup adalah milikmu seorang
Rayakan !
Sebelum kita menjadi terlalu tua
Dan bumi menelan tubuh kita

Bahkan setiap manusia akan tinggal kata
Di dalam benak anak dan cucu kita
Dan suatu saat katapun akan uzur
Tertinggal teronggok dan tertidur

Sigit Jati Kusumo
Agustus, 2015

Hasti

Aku pulang malam ini
Ke tempat yang dulu (pernah) kami huni
Yang dulu melepasku dengan murung saat dini hari
Pada malam terdingin di pertengahan februari

Deretan kursi bus malam
Angin merangsek ke dalam
Malam muram
Mulut bungkam

Betapa nasib buruk mengasihiku
Seakan tak bosan berada di sisiku
Entah dimana nasib baik dititipkan
Oleh ia yang ikut menghilang
Mungkin tersesat dalam senjanya yang kesepian

Sigit Jati Kusumo
Agustus, 2015

Hantu

Bukannya aku takut karena adamu
Tapi tubuhmu yang terawang menerbitkan rasa terancam
Engkau berkelit di balik benderang begitu senang dicumbu malam
Kadang engkau mewujud bayang muncul kala pendar lampu padam

Bunyi - bunyi ganjil dan benda bergerak kecil
Bau harum bunga alum yang tercium
Bulu tengkuk merinding tanpa dibimbing
Adalah segelintir tanda kau telah hadir

Barangkali engkau hadir untuk membuka tabir
Atas apa yang orang angankan dan kau inginkan
Atas segala mimpi yang direnggut takdir
Atau meratapi dunia yang kau tinggalkan

Sigit Jati Kusumo
Oktober, 2015

Sajak Rindu

Sajak-sajakku kau tahu
Adalah wujud renjana padamu
Dan sebagai bejana penampung rindu

Bertahun ia mengidam kau baca
Sehimpun rasa terpendam dalam kata

Bacalah,
Biarkan anganmu berlari kecil
Seperti yang kita lakukan di minggu pagi
Agar jiwamu tak terkucil
Dan pandang sejernih air perigi

Deretan konsonan-vokal tak terlafal
Begitu sering gagal dan terpenggal
Kata-kata gugup dan gagu
Tak sanggup dan ragu

Tapi tetap bacalah,
Biarkan gairah menyelubungimu
Suatu saat kita akan bercinta dengan panas
Sambil membayangkan anak-anak kita yang akan lahir

Dan lihatlah bagaimana pohon di luar gemetaran
Bergoyang hingga ke pucuk membayangkan kita berpeluk
Disaat itu aku ingin karam perlahan
Ke dalam rentang tanganmu yang sehangat pediangan

Sigit Jati Kusumo
2105

Ingkar

Pernah suatu masa
Di sejengkal tanah jawa
Dusta dalam cinta menjelma sebuah pinta

Bandung Bondowoso diminta Jonggrang
1000 candi dari bebatu cadas - karang
Dalam semalam dibangun seorang
Dijawab lantang tanpa gamang

Seribu batu kurang satu menjulang
Hanya untuk didusta Jonggrang
Lewat kokok ayam jauh sebelum benderang
Sapi dan kambing terperanjat di kandang

Lesat beribu jin lari membandang
Mengira siang sebelum matahari bertandang
Seribu candi tak kelar
Lantaran mendadak fajar

Kata kutuk diucap sang ksatria
Dusta dijelmakan Bathari Durga
Sebagai pelengkap seribu candi dan arca
Juga mengenang cinta yang pernah mengada

Sigit Jati Kusumo
Oktober, 2015

Cahaya (Abhati)

Engkau adalah keindahan pertama yang dicecap indra
Tercipta jauh sebelum adam dan hawa berada di surga
Lebih purba dari cahaya pertama
Yang turun di kaki semesta
Sonya ruri...

Sebelumnya engkau tak tertampung kata
Hingga para turunan adam menyebutmu cinta
Tapi cinta tetap tak termaktub
Dalam tiap kitab mahluk hidup

Kini, dalam dirimu wahai pramodhawardhani
Kulihat cahaya yang telah lama ku yakini:
Aku mencintai cahaya didalam dirimu

Cahaya sejati memancar dari manik matamu
Pantulannya menjelma pendar matahari, bulan, dan bintang gemintang
Serupa api yang menjaga hidup tungku
Niscaya semesta kelam ketika engkau pejam

Dalam tubuhmu yang sumber cahaya
Hembus nafasmu sekuat prana, nafas hidup penuh daya
Bergema di seluruh lereng merapi
Semesta cintamu mengusir sepi
Sejak bertemu denganmu pertama kali
Hati dan pikiran bertingkah ganjil, anomali
Inikah cinta?
Getar hati yang paling purba
Sebelum tercipta alam semesta

Sigit Jati Kusumo
November, 2015

Sang Pecinta Sejati

Esok ketika matahari ditelan gerhana
Dan langit sekelam nasib buruk
Barangkali pasukan rama telah usai mengamuk
Dan nyawaku telah sirna

Sampai malam ini,
Ketika pasukan kiskenda dan ayodya mengepung
Masih belum kumengerti mengapa aku mencintaimu :
Barangkali cinta memang seharusnya tak beralasan

Berulang kali engkau mati dan menitis
Tapi cinta dalam hati tak kunjung habis
Daya teluh parasmu yang tak jua mau kurengkuh
Dua belas tahun aku menahan kesabaran
Tanpa sedikitpun martabatmu kurendahkan
Itulah cinta
Tak seperti rama yang pamer kuasa berbalut dusta

Esok ketika matahari ingkar bersinar
Lesat beribu jemparing, beratus lembing
Memagut gigir tebing tempatku akhirnya terbaring
Rahwana tumpas cintaku tandas

Ingatlah cintaku
Rahwana mungkin rubuh, mati
Tapi cintaku tumbuh tak berhenti
Dan kala engkau didusta rama
Lewat api suci sepanas magma
Ingatlah pada manik mataku
Mata seorang pria yang tak butuh apapun kecuali cintanya

Sigit Jati Kusumo
November, 2016

Monokrom

Seperti warna buram potret masa silam
Hitam - putih harus jadi pembeda yang tegas
Untuk menjadikan terang suatu peristiwa

Tapi hidup selalu abu - abu katamu
Pada suatu waktu ketika kita bertemu
Seolah tak terima
Pada kesimpulan yang tak seksama

Ada yang beredar di atas gubuk lembab si miskin
Bayang maut yang menyaru dalam desir angin dingin
Hawa jekut berlompatan di perut gembel
Rasa takut menyelimuti gubuk di pinggir rel

Nasib buruk dan hawa dingin memang suka bersama
Di sana pula terkumpul para jambret, pencuri , dan karma
Anak jadah peradaban
Kau protes :
Ini bukan hanya soal tiga enam tiga
Tapi bagaimana seisi dunia jadi tak peduli dan tega
Ketika perut mereka menahan lapar dan asam lambung semakin liar

Lalu apa bedanya? Kataku
Fiat iustitia et pereat mundus
Prinsip yang kupegang hingga mampus
Bahkan sampai dunia hancur aku harus jadi orang jujur

Sekali sekali jangan hanya mendengarkan Tuhan
Dengarkan juga setan
Agar kau tahu dua sisi kebenaran

Dan aku termenung, bingung
Lalu terperangah, dan tertawa lepas

Sigit Jati Kusumo
25 November 2015

Malioboro

Pelupukmu menjelma aurora langit selatan
Bersinar dalam mata membola
Yang sarat sengkarut serat harapan
Berpendar seindah cahaya senja menembus jendela

Kau melangkah malam itu di malioboro
Sembari sesekali merapatkan kerah mengusir gigil
Dari seberang hotel mengalun nyanyian si pengamen afro
Dan kau tersenyum kecil
manis sekali...

Adakah yang lebih posesif
Dari genggamanmu kala itu
Bagaimana aku begitu pasif
Kau gelandang kesana kemari sepanjang waktu
Engkau membandang dan meletik seperti latu
Di antara lampu merkuri dan pengamen yang asyik sendiri

Aku punya malam terbaik bersamamu disini
Yang ingin terus ku ulang
Sampai nanti

Sigit Jati Kusumo
Desember, 2015

Tubuh Gaib

Penghujung musim kemarau
Kaki angin letih menyisir gigir pulau
Parasmu menebar serpih waktu
Tajam menghunus nasib tak menentu

Dalam badanmu kaldera mimpi remah kehidupan
Menjulang semu tak bertepi perambah khayalan
Di seluruh lembah tertutup berjuta madah
Untaian pujian pereda kerinduan

Denyar samar pendar pudar dan gebyar hambar
Datang jauh dari bagianmu yang entah
Mungkin kelenjar gairah atau lurung urat pecah

Tubuh gaibmu selaksa teka teki
Kadang membimbing kadang menyesatkan lelaki
Julang gunung - gemunung dan lembah mengerang gersang
Nafasku menggapai nafasmu dalam gamang

Sigit Jati Kusumo
11/4/2015

Laut

Musim ombak, lautan galak penuh gejolak
Lekuk teluk penuh hiruk pikuk gelombang khusyuk mengamuk

Sunyi tergelak diseluruh lautan
Lagak lagumu kelucak pasang bersahutan

Kadang tubuhmu lautan ganas
Berdebur melimbur pantai tidur dengan beringas
Kadang engkau lautan tenang
Menyenangkan hati nelayan yang rindu tangkapan

Dan aku hanya penyair mabuk,
Membaca tubuhmu lewat cetak bercak lautan berkecamuk
Pikiranku dilucuti hingga bugil oleh ombak menggerus
Bagai sebutir kelapa limbung diseret arus

Sigit Jati Kusumo
Januari, 2016

Demam

Hanyalah rindu yang kupuja sepanjang malam
Kala menggigil dihantam demam
Kusaksikan engkau berlarian
Nyaris merupa kenyataan

Hanyalah kenang yang muncul kala meriang
Mungkin kelelahan terlalu lama main hujan
Bau tubuhmu sebelum bersalin
Kembali hadir dibawa angin

Hanyalah sepi yang mengaburkan keadaan
Batas mimpi dan kenyataan
Sebab malam begitu rapuh
Kapanpun aku bisa ikut jatuh

Dan engkau masih bersliweran di sepanjang angan
Alismu lebat sesekali berkelebat di benakku yang pucat
Tak perlu setan menyamar sebab dari tadi aku sudah gemetar
Membayangkan hingga pening kala kita menyatu dalam hening

Sigit Jati Kusumo
Januari, 2016

Senopati

Maka angin kembali bergerak ke utara
Menyasar gigir sajak berlalu ke samudra
Akankah ia berhenti
Sebab setiap langkahnya digelayuti sepi

Dan aku senopati tua
Bertapa menunggu moksa
Sedang kematian makin menjauh urung menyentuh
Seperti dirimu

Sigit Jati Kusumo
Maret,2016

Pohon

Biarkan aku terpesona rerantingmu
Keras namun tak getas
Hidup di puncak musim keringku

Kita dua pohon dipisahkan takdir
Dihadiahi jalan berbeda sejak lahir

Kau pohon hayat tumbuh sempurna di nirwana
Tumbuh utuh dari biji tufah usai dikunyah penghuni surga
Mencecap mata air jernih sungai mengalir
Buahmu mengkal ranum mengundang kagum
Daunmu dihembus angin ringan, berdesir di dunia sihir

Aku hanya pohon pinggir rawa tempat berlindung lelawa
Tumbuh murung dari benih yang dijatuhkan burung
Mencecap air gambut, kesepian akut
Buahku nyaris masak sebelum jatuh dikulum alum
Dedaunku dipeluk embun sebelum luruh dibantun taifun

O... Bukankah kita begitu berbeda
Aku pohon tak genap tak lengkap
Tumbuh sekejap sebelum lenyap
Aku pucuk buluh hendak membelai bulan subuh
Dihantam rindu dendam tak khatam hingga lebam

Sigit Jati Kusumo
Februari,2016

Kunti

Kaukah yang akan datang malam ini
Ketika surya telah pulang menyisakan hitam
Digantikan sinar temaram chandra melawan kelam

Kelam yang dihiasi gaung kelepak keluang
Menyatu dengan sekian sisa kematian
Di antara bebongkah nisan menyaru taman

Taman tempatmu tinggal tak mau tanggal
Dimana gerumbul asap kemenyan sangit menebar hawa wingit
Dan beringin tambun berdaun rimbun menghalangi cahaya bulan

Bulan yang menemanimu menebar sawan
Mengundang tangis anak - anak
Terlambat masuk dimalam jumat

Kaukah yang akan datang malam ini
Datanglah, datang saja
Kunti

Sigit Jati Kusumo
April, 2016