Minggu, 11 Oktober 2015

Ladang Tebu

Ladang tebu
Serumpun tanaman menahan beku
Angin dingin kesepian melompat turun dari langit
Seakan ingin berbagi kesendirian dan sakit

Seusai jenuh mondar mandir di sela-sela rerimbun daun
Berjalan tanpa arah dihantui sekarung getun
Sang angin meluruk ke timur
Bertemu sekumpulan orang yang gemar melantur
Lelap dalam tidur
Mulut kotor tak henti ngelindur

Sesekali dia mengendap endap masuk ke kamar seorang pesakitan
Memberinya mimpi abadi tentang kebebasan
Yang tak mampu diberikan oleh Tuhan
Namun selalu ditawarkan oleh kematian

Di timur pula ia bertemu seorang penyair
Yang telah lama merindu rekah bibir
Di kepalanya bertumpuk sekarung tafsir
Di pipinya air mata kadangkala bergulir

Tepat pada dentang keduabelas itu angin mendapatkan teman
Empat kelelawar terbang bersayap angan
Bersama mengitari langit rupa hamparan
Sembari meledek ternak yang terlahir jadi sembelihan

Menertawakan, mereka yang dipasung sejak dalam buaian
Lupa, bahwa dirinya dikutuk petang sebagai tawanan
Sejak lama ingin dicumbu cahaya
Mengidamkan namun tak berdaya

Angin dan kelelawar, melenggang terbang meracik benih sunyi
Meraung, merintih, berkesiut tanpa bunyi
Sampai sang penyair terjaga dari mimpi basah
Dan puisi-puisinya usai meraut wajah...

Sigit jati kusumo
Kendari, juni 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar