Sabtu, 16 April 2016

Angin

Gemetar serupa pohon dilanda hujan
Aku melangkah perlahan, sedikit tertahan
Sedang di atas, angin mengelana bebas tanpa batas

Angankan aku sebagai angin itu
Leluasa bertualang memasuki ruang
Tanpa lupa dirimu sebagai tujuan pulang

Maka ijinkan aku membaca parasmu
Pada gunung lembah berkelok indah
Pada mata teduh tempat harap kukayuh

Mata indah yang mengaburkan resah
Berhias serakan merjan melambungkan angan
Niscaya harap mengendap kala kau mengerjap

Sekarang berpalinglah cah ayu
Biarkan aku tergelincir menuju gigir bibir
Sebab aku ingin mencecap manis
Dari  gadis pujaan sang penyair

Angankan aku sebagai angin itu cah ayu
Membaca parasmu, membalut tubuhmu
Merindumu...

Sigit Jati Kusumo
7 April 2016

Masa Kecil

Kadang terlintas dalam benak
Ingin kembali ke masa kanak
Menjadi bocah dekil yang terpesona hal-hal kecil
Dengan kesederhanaan tamsil dalam kepala mungil

Dan kita akan bermain bersama
Anyaman daun nangka yang kau sangka mahkota
Menghiasi kepala kita

Selembar sarung, jubah yang agung
Berkibar mengusir mendung
Kau ratu rembulan aku raja matahari
Kita raja dan ratu dalam sehari

Anggun berselingan
Lincah menari dibalik angan

Sigit Jati Kusumo
April, 2016

Hakikat Maut

Maut adalah seonggok jasad
Tergolek dingin di lubang mayat
Cacing dan belatung berpesta di genangan lobang mata
Daging membusuk dan berjatuhan dari tubuh kita

Diatasnya kerabat meratap dan berdoa
Entah untuk apa entah kepada siapa
Entah apa atau siapa yang mendengarnya

Maut adalah ketika segalanya menemui akhir
Tak seindah apa yang di kabarkan oleh pengkotbah dan penyair
Selebihnya hanya menyisakan getir

Sigit jati kusumo
2010

Ritual

Malam turun perlahan
Cahaya rembulan menyusup di sesela kabut seperti rekahan
Angin berkesiut dari dahan ke dahan
Suara jantung tersudut sedikit berbagi keriuhan
Selarik blarak hanyut hilang di kejauhan

Sepasang anak adam, sedang berbagi cinta
Bersama menghabiskan malam, pada hal terbaik yang pernah dicipta
Dalam teriakan banal dan lenguh binal
Sebuah percumbuan singkat diujung hari jumat

Nafas sepasang manusia
Menjelma udara di ruang hampa
Bersama angin mengembara tanpa rupa
Sampai temu tabir rahasia

Di balik temaram subuh yang sebentar lagi lenyap
Embun perlahan menghilang melesap
Ke celah-celah tanah yang (masih) terbaring lelap
Lelah menunggu harap

Sigit jati kusumo
2015

Perempuan Itu

Aku bertanya padamu
Apakah semua perempuan diluar sana
Dilahirkan dengan kegemaran yang sama
Seperti sebuah pelukan yang merengkuh tubuhmu
Ataukah sedikit kecupan di puncak keningmu

Dan betapa engkau suka
Membenamkan wajah cantikmu dalam kaosku
Tepat di dadaku, yang setia menadah suka dukamu

Apa yang hendak engkau kekalkan dalam sebuah pelukan
Apakah itu pelepasan kerinduan
Ataukah mimpi purba akan sebuah pertemuan

Hatimu mungkin lapang
Tempat lalu-lalang berbagai kenangan
Tapi cukup tangguhkah engkau menampung kesakitan
Yang muncul akibat perpisahan
Yang harus kita bayar dari sebuah pertemuan

Sigit Jati Kusumo,
2015

Penghujung Malam

Gelap kembali jatuh
Di penghujung malam yang hendak rubuh
Sang surya akan segera bersinar angkuh
Sebelum jiwamu jumbuh kurengkuh

Di langit timur terbit putra sang fajar
Bersinar redup nyaris tanpa gebyar
Diantara ranjang dan selimut terhampar
Tautan sukma kita pun ambyar

Ingin kucumbu dirimu siang dan malam
Biar matahari dan rembulan terbakar iri-dendam
Sungguhpun tubuh kita bersitaut begitu dalam
Kobar cinta ini tak akan padam

Sigit jati kusumo,
2015

Kopi

Ijinkan aku dengan santun meminta padamu
Untuk menjadi kopi dipagi harimu
Mencoba menghangatkan hatimu yang beku
Dan membalur lidahmu yang kelu

Biarlah kesedihanmu mengendap dalam ampasku
Juga pahit getirmu lindap dalam pekatku

Biarkan aku menjadi kopi bagimu
Untuk menguatkanmu juga menghangatkanmu
Di saat-saat tergelap dalam hidupmu

Sigit Jati Kusumo
2015