Sabtu, 16 April 2016

Angin

Gemetar serupa pohon dilanda hujan
Aku melangkah perlahan, sedikit tertahan
Sedang di atas, angin mengelana bebas tanpa batas

Angankan aku sebagai angin itu
Leluasa bertualang memasuki ruang
Tanpa lupa dirimu sebagai tujuan pulang

Maka ijinkan aku membaca parasmu
Pada gunung lembah berkelok indah
Pada mata teduh tempat harap kukayuh

Mata indah yang mengaburkan resah
Berhias serakan merjan melambungkan angan
Niscaya harap mengendap kala kau mengerjap

Sekarang berpalinglah cah ayu
Biarkan aku tergelincir menuju gigir bibir
Sebab aku ingin mencecap manis
Dari  gadis pujaan sang penyair

Angankan aku sebagai angin itu cah ayu
Membaca parasmu, membalut tubuhmu
Merindumu...

Sigit Jati Kusumo
7 April 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar