Kamis, 21 April 2016

Angin Sunyi

Detak jam begitu nyata menggertak

Pada suara angin membelai udara

Berderai tidurkan ramai yang kini lupa akan luka

Angankan aku adalah angin itu

Yang tak merajuk meskipun lelah

Hendak menuju lekuk daun telingamu untuk istirah

Sebab aku ingin melipat jarak yang kini beranjak untuk berarak

Menggulung waktu lalu. Semakin beku dan kelu

Hingga tak terasa lagi sakit oleh pahit detik itu

Pahit yang terbit usai diperam sedetik tadi

Oleh bersit rindu yang bangkit dalam sedetak nadi

Ketika membayangkan parasmu dalam semedi

Yang ada hanya siut

Yang nyata cuma kesiur

Selebihnya udara kisut yang simpang siur

Dan perihal sesal yang menjelma berjuta amsal

Tetap tinggal, tak mau tanggal

Janggal dan kekal

Ibnu Nafisah & Sigit Jatikusumo
Kendari, 16 Maret 2016

Minggu, 17 April 2016

Payung

Betapa sejak lama
Aku ingin berpayung lagi denganmu
Mengarungi rentang jalan yang lengang
Dibawah rintik hujan dengan tangan bertautan

Ricik air hujan
Kehangatan jemari tangan
Udara lembab
Langit gelap

Kabut mengepul dari hembus nafasmu
Menjelma kecupan di kaldera kalbu
Menggeriapkan bulu-bulu tengkuk
Seperti kala kita berpeluk...

Sigit jati kusumo,
2015

Kentir Ing Wedi Ombo

Aku berdiri di atas batas
Antara pasir dan air
Sinar bulan dan kelucak ombak
Bayang rembulan dikaburkan riak

Jantungku bergemuruh seriuh prajurit perang campuh
Hati berdebam seseram logam saling hantam
Di dalam kepalaku
Mendung menggantung memuramkan jiwa murung
Tubuhku... Mematung...

Sigit Jati Kusumo
April, 2016

Sabtu, 16 April 2016

Angin

Gemetar serupa pohon dilanda hujan
Aku melangkah perlahan, sedikit tertahan
Sedang di atas, angin mengelana bebas tanpa batas

Angankan aku sebagai angin itu
Leluasa bertualang memasuki ruang
Tanpa lupa dirimu sebagai tujuan pulang

Maka ijinkan aku membaca parasmu
Pada gunung lembah berkelok indah
Pada mata teduh tempat harap kukayuh

Mata indah yang mengaburkan resah
Berhias serakan merjan melambungkan angan
Niscaya harap mengendap kala kau mengerjap

Sekarang berpalinglah cah ayu
Biarkan aku tergelincir menuju gigir bibir
Sebab aku ingin mencecap manis
Dari  gadis pujaan sang penyair

Angankan aku sebagai angin itu cah ayu
Membaca parasmu, membalut tubuhmu
Merindumu...

Sigit Jati Kusumo
7 April 2016

Masa Kecil

Kadang terlintas dalam benak
Ingin kembali ke masa kanak
Menjadi bocah dekil yang terpesona hal-hal kecil
Dengan kesederhanaan tamsil dalam kepala mungil

Dan kita akan bermain bersama
Anyaman daun nangka yang kau sangka mahkota
Menghiasi kepala kita

Selembar sarung, jubah yang agung
Berkibar mengusir mendung
Kau ratu rembulan aku raja matahari
Kita raja dan ratu dalam sehari

Anggun berselingan
Lincah menari dibalik angan

Sigit Jati Kusumo
April, 2016

Hakikat Maut

Maut adalah seonggok jasad
Tergolek dingin di lubang mayat
Cacing dan belatung berpesta di genangan lobang mata
Daging membusuk dan berjatuhan dari tubuh kita

Diatasnya kerabat meratap dan berdoa
Entah untuk apa entah kepada siapa
Entah apa atau siapa yang mendengarnya

Maut adalah ketika segalanya menemui akhir
Tak seindah apa yang di kabarkan oleh pengkotbah dan penyair
Selebihnya hanya menyisakan getir

Sigit jati kusumo
2010

Ritual

Malam turun perlahan
Cahaya rembulan menyusup di sesela kabut seperti rekahan
Angin berkesiut dari dahan ke dahan
Suara jantung tersudut sedikit berbagi keriuhan
Selarik blarak hanyut hilang di kejauhan

Sepasang anak adam, sedang berbagi cinta
Bersama menghabiskan malam, pada hal terbaik yang pernah dicipta
Dalam teriakan banal dan lenguh binal
Sebuah percumbuan singkat diujung hari jumat

Nafas sepasang manusia
Menjelma udara di ruang hampa
Bersama angin mengembara tanpa rupa
Sampai temu tabir rahasia

Di balik temaram subuh yang sebentar lagi lenyap
Embun perlahan menghilang melesap
Ke celah-celah tanah yang (masih) terbaring lelap
Lelah menunggu harap

Sigit jati kusumo
2015