Kepada adikku :
Bola lampu tua itu
Apakah masih menempel di dinding kamar ibu
Pijar keemasannya pernah menghangatkan malam malam kita dulu
Di kota yang anginnya terus berhembus
Di rumah yang kusennya dicat hijau kukus
Aku masih mengingat segalanya:
Masa kecilku
Apakah plafonnya masih berlubang seperti waktu itu
Dimana ada gelap membayang
Dan dari sana mengintip kecemasan
Seperti masa kecilku yang kadang terlalu gampang ketakukan
Ataukah masih seperti dimalam- malam yang lain
Kita duduk di lincak, pada beranda yang dibuai angin
Dengan punggung yg menyeru dingin
Menggigil dalam ingin
Kemudian bagaimana pula dengan dapur rumah kita
Yang tiap subuh bunyi ceklak - ceklek menggema
Dimana ibu memasak disana
Untuk kita yang berangkat segera
Disana pula kakek yang tiap pagi menyalakan tungku untuk memasak air hangat
Ah, kakek! Beliau meskipun sudah tua tapi masih penuh semangat
Tiga hari seminggu mengajar senam di balai desa
Tanpa lupa ibadah penghapus dosa
Sekarang aku ingin tahu bagaimana kamar kita
Yang gordennya dari bahan kain mentah warna biru
Yang aroma udaranya berbau gel rambutmu
Dan baju kotor bertumpuk dengan buku jadi satu
Aku sedang bicara tentang masa kecil kita
Yang mengendap disana di rumah tua
Dimana kenangan berserakan
Diantara tembok tua dan ubin yang telah berubah warna
Sigit jati kusumo,
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar