Sabtu, 16 April 2016

Bayang Maut

Bayang maut berkeliaran di atap rumah
Harapan susut menyublim ke entah
Muka kusut gamang tanpa arah
Dihantui kalut disatroni amarah

Mungkin maut enggan pergi
Setelah singgah di sini disuatu pagi
Merenggut keluarga dalam sekali rengkuh
Atas perintah Tuhan yang tertawa angkuh

Sementara yang ditinggalkan
Termangu di bawah kaki pengharapan
Bergerak namun tak berani berangan
Hidup sebatas dari belas kasihan

Angin datang dari selatan menggenggam bingkisan
Seolah ingin ikut memberi harapan meringankan penderitaan
Terbang rendah di atas daratan menolak takhluk pada Tuhan

Sayang angin telah lupa bahwa
Takdir telah ditentukan pada semua yang berjiwa
Tak terkecuali turunan adam dan hawa

Fakta adalah selisih antara harapan dan kenyataan
Segala keluhan yang ia ikut denguskan
Tak lebih dari selingan dari empedu kehidupan

Sigit Jati Kusumo
2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar