Bayang maut berkeliaran di atap rumah
Harapan susut menyublim ke entah
Muka kusut gamang tanpa arah
Dihantui kalut disatroni amarah
Mungkin maut enggan pergi
Setelah singgah di sini disuatu pagi
Merenggut keluarga dalam sekali rengkuh
Atas perintah Tuhan yang tertawa angkuh
Sementara yang ditinggalkan
Termangu di bawah kaki pengharapan
Bergerak namun tak berani berangan
Hidup sebatas dari belas kasihan
Angin datang dari selatan menggenggam bingkisan
Seolah ingin ikut memberi harapan meringankan penderitaan
Terbang rendah di atas daratan menolak takhluk pada Tuhan
Sayang angin telah lupa bahwa
Takdir telah ditentukan pada semua yang berjiwa
Tak terkecuali turunan adam dan hawa
Fakta adalah selisih antara harapan dan kenyataan
Segala keluhan yang ia ikut denguskan
Tak lebih dari selingan dari empedu kehidupan
Sigit Jati Kusumo
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar