Seperti warna buram potret masa silam
Hitam - putih harus jadi pembeda yang tegas
Untuk menjadikan terang suatu peristiwa
Tapi hidup selalu abu - abu katamu
Pada suatu waktu ketika kita bertemu
Seolah tak terima
Pada kesimpulan yang tak seksama
Ada yang beredar di atas gubuk lembab si miskin
Bayang maut yang menyaru dalam desir angin dingin
Hawa jekut berlompatan di perut gembel
Rasa takut menyelimuti gubuk di pinggir rel
Nasib buruk dan hawa dingin memang suka bersama
Di sana pula terkumpul para jambret, pencuri , dan karma
Anak jadah peradaban
Kau protes :
Ini bukan hanya soal tiga enam tiga
Tapi bagaimana seisi dunia jadi tak peduli dan tega
Ketika perut mereka menahan lapar dan asam lambung semakin liar
Lalu apa bedanya? Kataku
Fiat iustitia et pereat mundus
Prinsip yang kupegang hingga mampus
Bahkan sampai dunia hancur aku harus jadi orang jujur
Sekali sekali jangan hanya mendengarkan Tuhan
Dengarkan juga setan
Agar kau tahu dua sisi kebenaran
Dan aku termenung, bingung
Lalu terperangah, dan tertawa lepas
Sigit Jati Kusumo
25 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar