Esok ketika matahari ditelan gerhana
Dan langit sekelam nasib buruk
Barangkali pasukan rama telah usai mengamuk
Dan nyawaku telah sirna
Sampai malam ini,
Ketika pasukan kiskenda dan ayodya mengepung
Masih belum kumengerti mengapa aku mencintaimu :
Barangkali cinta memang seharusnya tak beralasan
Berulang kali engkau mati dan menitis
Tapi cinta dalam hati tak kunjung habis
Daya teluh parasmu yang tak jua mau kurengkuh
Dua belas tahun aku menahan kesabaran
Tanpa sedikitpun martabatmu kurendahkan
Itulah cinta
Tak seperti rama yang pamer kuasa berbalut dusta
Esok ketika matahari ingkar bersinar
Lesat beribu jemparing, beratus lembing
Memagut gigir tebing tempatku akhirnya terbaring
Rahwana tumpas cintaku tandas
Ingatlah cintaku
Rahwana mungkin rubuh, mati
Tapi cintaku tumbuh tak berhenti
Dan kala engkau didusta rama
Lewat api suci sepanas magma
Ingatlah pada manik mataku
Mata seorang pria yang tak butuh apapun kecuali cintanya
Sigit Jati Kusumo
November, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar